Sikap Hidup Sederhana di Zaman yang serba “Menggiurkan”

logogass 300x300 » Sikap Hidup Sederhana di Zaman yang serba "Menggiurkan"Manusia hidup dgn berbagai aneka kebutuhan. Dalam teori ekonomi (setahu saya dalam mata pelajaran “ekop” alias ekonomi dan koperasi di era orba) kebutuhan dibagi 3 tingkatan, primer, sekunder & tertier. Dalam rangka memenuhi kebutuhan2 tsb manusia dituntut untuk menentukan “standard hidup” yg dipilihnya. Seorang bijak pernah berkata dan itu masih terasa di telinga saya. “Semakin tinggi standard hidup yg dipilih semakin tinggi pula tingkat kesulitan dalam meraih/mewujudkannya”.

Sebagai contoh tatkala kita menetapkan standard makanan yg  kita butuhkan adalah nasi dgn lauk ayam goreng, maka dalam proses pemenuhannya akan lebih sulit jika dibandingkan dgn yg menetapkan standard nasi dgn lauk tempe goreng. Kesulitan itu bisa dari harga, dimana harga daging ayam lebih mahal dari tempe yg murah, proses memasaknya juga lebih rumit. Rumah mewah jauh lebih sulit mewujudkannya jika dibandingkan dgn rumah sederhana yg cuma bisa sebagai tempat berteduh dari panas & hujan. Dan begitulah seterusnya. “Manajemen fungsional” alias mengutamakan “fungsi” daripada “gengsi” mungkin bisa jadi dasar pijakan dalam menentukan “standard hidup” yg kita tentukan.

Di era modern yg serba “wah”, ditambah kecenderungan manusia yg lebih suka di”wah”kan oleh sekitarnya, membuat “gengsi” mendapat tempat di hati. Orang sekarang lebih suka “bungkus” daripada “isi”, ditambah lagi fasilitas pendukung yg kian menggoda. Persyaratan pengambilan “kredit” dipermudah menjadikan masyarakat tergiur untuk hutang tanpa berpikir panjang. Dan gaya hidup konsumtif secara tak sadar merasuk ke dalam pikiran. Akhirnya kita akan terbelenggu oleh “hutang panjang umur”. Kerja keras mencari uang untuk nafkahi keluarga sebagian harus disetor sebagai “bunga cuma-cuma” kepada pemberi kredit. Ungkapan “jika tak hutang maka tak bisa punya apa-apa” memang ada benarnya, namun perlu “kebijaksanaan” dalam menentukan untuk keperluan/kebutuhan apa kita berhutang?

Kiranya sikap menjadi solusi satu-satunya agar kita terhindar dari godaan zaman yg kian hari kian “menggiurkan”. Sederhana bukan berarti “seirit mungkin hingga terkesan bakhil bin pelit alias medit”. Sederhana adalah sesuai dgn kebutuhan yg bukan karena keinginan semata. (Kebutuhan dgn Keinginan itu berbeda, walau perbedaannya sangat tipis). Bukankah junjungan kita Rosulillah SAW adalah sosok pribadi yg sederhana & penuh dgn kesederhanaan…???

Al’afwu minkum.

#Ditulis oleh aka Syeh