Pilih Mana Umroh Dulu atau Daftar Hajji Dulu?

logogass 300x300 » Pilih Mana Umroh Dulu atau Daftar Hajji Dulu?Panjangnya antrian alias “waiting list” untuk beribadah bagi rakyat Indonesia membuat “keinginan” untuk ber’ masyarakat semakin besar, dgn dalih “kalau nunggu terlalu lama”. Memang begitulah realitanya, panjangnya antrian bisa mencapai 20 tahun setelah mendapat nomer porsi dari Kemenag usai mendaftar. Hal ini menunjukkan ghirah/semangat berhajji masyarakat yg besar disamping meningkatnya ekonomi masyarakat.

Tatkala ditanya seorang teman, “Apa yg lebih diutamakan ‘umroh dulu atau daftar hajji dulu?”, maka dgn berhati-hati saya jawab, jika berhajji sudah pasti ber’umroh, tapi bila ber’umroh belum tentu berhajji, sebab Hajji & ‘Umroh itu bergandengan, dan khusus untuk hajji waktunya ditentukan, lain dgn ‘umroh, kapan saja bisa dikerjakan. Bila beaya untuk ber’umroh setara atau lebih besar dari daftar hajji maka yg lebih diutamakan adalah daftar hajji dahulu, sebab orang tersebut secara hukum “dianggap” sudah berkemampuan (finansial) untuk “berhajji”, bila yg didahulukan ber’umroh maka dia masih punya “tanggungan”, takutnya bila sampai “tutup usia” belum berhajji maka bisa dikatakan yg bersangkutan “berhutang”. (Fal’iyaadzubillaah).

Akan lebih bijaksana jika buat daftar hajji dulu, sambil menunggu antrian kita “sinau manasik” dan bila ada kelebihan rizki lagi bisa dibuat ‘umroh, hitung2 mengenal medan waktu berhajji kelak, (biasanya, ketika seseorang usai mendaftar hajji, rizki orang yg bersangkutan akan silih berganti berdatangan, ini rahasia Allah Ta’aalaa). Dan jangan pernah khawatir bila saking lamanya menunggu panggilan dari Kemenag ternyata (misal) kedahuluan Sayyid Izro’il yg memanggil, maka Insyaallah…! Allah Ta’aala tetap memberinya pahala hajji “komplit” (karena niat sudah dicatat walau belum dikerjakan) & tidak ada pengurangan sebab pamer, riya’ & penyakit hati lainnya, sedang ONH yg sudah terbayar di Kemenag bisa “diwaris”kan ke anak cucu (keluarga).

Semoga ghirah/semangat beribadah hajji & ‘umroh kita dilandasi oleh niat yg tulus semata-mata mengharap ridhoNya karena “inti” dari ibadah ini adalah “ibadah pasrah”, jangan sampai dibelokkan oleh niat-niat yg lain semisal “ingin” meningkatkan “status sosial” di mata masyarakat. Hanya di Indonesia saja orang yg sudah berhajji diberi gelar/embel2 ‘H’ atau ‘Hj’ di depan namanya, dan seolah ada “wah” bila menyandangnya, disinilah nafsu manusia berperan dibumbui oleh mbah syetan yg setiap saat memang bertugas membelokkan “niat tulus” menjadi “akal bulus” hingga di di hadapanNya kelak kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Fai’iyaadzubillaah.

Ini adalah opini pribadi tanpa “dalil-dalil” rujukan yg pasti karena saya bukan kyai, maka bila ada yg kurang sependapat, monggo.. silahkan dikoreksi…! Saran & kritik tetap dinanti..
Wallaahu a’lam bisshowaab….

Al’afwu minkum

#Ditulis oleh aka Syeh